Jumat, 02 Oktober 2009
SANTU HERMAN YOSEF (1150 - 1241 )
Selasa, 2008 Juni 10
Inkud Masuk ke Bisnis Minyak Jarak
Ketua Umum Inkud Herman Wutun kepada pers usai pembukaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Inkud di Jakarta, Jumat, mengatakan, untuk tahap awal, pihaknya bersama mitra bisnis telah melakukan pembibitan di lahan seluas 50 hektare yang dikelola secara profesional untuk menjadi bisnis model.
Hasil pembibitan ini diproyeksikan untuk memenuhi penanaman jarak di lahan seluas 5.000 hektare. Jika proyek ini berhasil maka segera akan ditempatkan mesin prosesing biji jarak menjadi minyak jarak.
Herman optimistis kerja sama yang telah dirintis beberapa tahun ini akan menjadi penarik investor lainnya untuk juga masuk ke Indonesia. CPC merupakan sebuah BUMN di Taiwan yang bergerak di bidang perminyakan.
Menurut Herman yang didampingi para pengurus Inkud dan para mitra asingnya, kerjasama dengan CPC melalui proses cukup lama. Pada April lalu, Inkud telah menandatangani MoU dengan perwakilan investor.
Setelah kerjasama ini, pihaknya akan melakukan penandatanganan Memorandum of Agreement yang berisi tanggung jawab dan hak masing-masing pihak.
Rencananya proses penanaman akan dimulai pada tahun 2010 dengan luas lahan 1.000 hektare dan membangun pabrik yang mampu memproses tanaman jarak seluas 20 ribu hektare.
Herman mengakui pihaknya belum memutuskan apakah hasil produksi minyak jarak itu untuk konsumsi ekspor atau dalam negeri. "Kami sudah membicarakan hal itu namun belum ada keputusan termasuk siapa nantinya yang akan melakukan impor apakah CPC atau Inkud atau perusahaan patungan bru," katanya.
Dalam kesempatan itu juga ditandatangani dua MoU dengan Chung Yuen Christian University (CYCU) Taipei, Taiwan, dan PT Lembata Agro Semarang (LAS). CYCU sudah menawarkan 25 beasiswa bagi mahasiswa Indonesia. Inkud sebelumnya telah melakukan pengiriman empat mahasiswa pada tahun 2006 ke universitas tersebut.
Inkud dalam hal ini bertindak sebagai perwakilan CYCU yang akan mengirimkan para mahasiswa Indonesia ke universitas tersebut.
Sementara MoU dengan PT Lembata Agro Semarang (LAS) dimaksudkan untuk peningkatkan kapasitas produksi kacang mete di Lembata, Alor, dan Sumba, Flores Nusa Tenggara Timur. Dalam kerja sama ini, LAS akan membeli mete dari petani, kemudian melakukan prosesing hingga pemasaran.
Kapasitas produksi mete dari Flores sekitar 20.000 ton per tahun. Adapun, total kapasitas mete di Indonesia sebesar 50.000 ton. Provinsi lain yang turut mengembangkan mete adalah Sulawesi Tenggara.
Peluang ekspor untuk mete masih terbuka karena kebutuhan dunia saat ini sekitar 1 juta ton per tahun. Pemasok terbesar mete adalah India, sebanyak 400.000 ton per tahun. Karena itu mete masih memiliki pasar internasional.
Menurut Herman, kerja sama ini menandai awal bangkitnya Inkud setelah "tertidur" sekitar 10 tahun ini. Inkud sebelumnya merupakan salah satu koperasi terbesar di Indonesia yang masa puncak kejayaannya dicapai ketika pemerintah menerapkan tata niaga cengkih. (*)
"Setelah kita meminta kesediaannya, beliau bersedia menjadi penasehat Induk KUD. Prinsipnya, Prof. Budhi menerima amanah sebagai Ketua Dewan Penasehat Induk KUD Indonesia," ujar Ketua Umum Induk KUD Indonesia, Drs. Herman Yosef Loli Wutun, MBA, ketika dihubungi Pos Kupang melalui handphone ke kantornya di Graha Induk KUD Indonesia, Warung Buncit, Jakarta, Rabu (30/9/2009).
Menurut Herman Wutun, pada Rapat Akhir Tahun (RAT) ke-29 Tahun Buku ke-28 yang berlangsung di Jakarta pada 2 Oktober mendatang, Budhisantoso dijadwalkan memberikan pengarahan dalam kapasitas sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Presiden.
Dalam RAT tersebut, jelas Herman Wutun, diadakan juga tiga acara penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU).
Pertama, pertukaran dokumen MoU Induk KUD dengan China Petroleum Corporate (CPC), perusahaan minyak nasional Taiwan menyusul penandatanganan MoU di Taiwan 2 September 2009 lalu. "MoU Induk KUD dengan CPC terkait budidaya, processing, dan pemasaran minyak nabati dari jathropa," jelas Herwan Wutun.
Kedua, penandatanganan MoU antara Induk KUD dengan Chung Yuan Christian University (CYCU) terkait manajemen bisnis dan teknologi. "Kita pernah melakukan MoU pada September 2005 dengan CYCU. Induk KUD membantu untuk rekruitmen calon-calon mahasiswa S-2 dan S-3 dalam rangka belajar di CYCU dengan fasilitas beasiswa internasional," lanjut Herman Wutun.
Pada 2004, kata dia, Induk KUD mengirim empat calon mahasiswa ke Taiwan yang direkrut dari Institut Pertanian Bogor. Keempat mahasiswa tersebut, katanya, sudah menyelesaikan studi tepat waktu.
"Tiga orang langsung bekerja di Taiwan. Seorang lain direkomendasikan untuk melanjutkan studi doktoralnya di Jerman," ujar Herman Wutun, pria kelahiran Uruor, Lembata, NTT.
Ketiga, dilakukan juga penandatanganan dengan PT Lembata Agro. PT Lembata Agro merupakan anak perusahaan PT Bali Anak Ardia yang berkedudukan di Semarang, Jawa Tengah.
"Penandatanganan MoU Induk KUD dengan PT Lembata Agro ini untuk bekerja sama dalam bidang budidaya tanaman mete. Mitra kita ini sudah berkecimpung 37 tahun di bidang ini," kata Herman Wutun. (*)
Kamis, 01 Oktober 2009
Program Jagung dan Ternak Harus Disatukan Dalam Koperasi
31-Jul-2009
Oleh Leonard RitanKupang, Flores Pos
Dengan demikian, ancaman ketidak- berhasilan bisa saja terjadi. Karena perhatian pasti saja berbeda. Jika disatukan dalam program koperasi, perhatian untuk meningkatkan produksi jagung dan mengembalikan NTT sebagai gudang ternak bisa terwujud.Selasa, 08 September 2009
In the News CPC inks biodiesel deal with Indonesian firm * Publication Date:09/03/2009 * Source: Commercial Times The Taiwan-based CPC Corp.
In the News
CPC inks biodiesel deal with Indonesian firm
- Publication Date:09/03/2009
- Source: Commercial Times
The Taiwan-based CPC Corp. signed a memorandum of understanding Sept. 2 with Indonesia’s Induk Koperasi Unit Desa to produce biofuel, with a capital investment of NT$3.6 billion (US$109.4 million).
President of CPC Chu Shao-hua and Induk Kud Chairman Herman Yosef Loli Wutun signed the memorandum agreeing to plant 100,000 hectares of Jatropha Curcas in east Kalimantan over the next five years. The trees are expected to produce 350,000 metric tons of jatropha oil and 2 million tons of carbon credits, which will compensate for 20 percent of CPC’s carbon emissions.
CPC said since July 2007 the government has required that all diesel fuel for automobile use contain 1 percent biofuel. Taiwan consumes about 3.5 million metric tons of diesel annually, and thus 35,000 metric tons of biofuel are needed every year.
The new collaboration with Indonesia aims at diversifying CPC’s energy resources.
The two companies will each cover 40 to 50 percent of the capital for the project along with investment from other smaller shareholders. The jatropha oil is expected to enter the market by 2012 at the earliest.
The jatropha tree (commonly known as the physic nut) is a non-food plant with a lifespan of 50 years. It is strongly resistant to droughts, pests and diseases, and can be grown on marginal land. The tropical land that CPC acquired to grow the trees on is internationally certified as non-food cropland and non-forest area.
Jatropha is an important source of biofuel because its initially refined oil can be used to power generators, fishing vessels, and agricultural equipment, and hydrogenating the oil will transform it into environmentally friendly biodiesel. (TYH-THN)
Related Articles
- Hon Hai buys Sony’s TV plant in Mexico2009/9/2
- CMO receives recognition for green building2009/8/26
- Red Cross to build 3,400 homes2009/8/25
- The best defense is a good offense2009/8/14
- CPC to explore natural gas field with Sinopec 2009/8/13
- CPC’s naphtha plant upgrade to begin2009/8/10
- Cross-strait steel giants sign agreement2009/8/10
- Contract chipmakers increase capex plans amid improved business outlook2009/8/7
- Water saving devices to be distributed2009/8/5
- Cross-strait oil hunt to get underway
Taiwan oil firm signs deal to produce biofuels in Indonesia
Taiwan oil firm signs deal to produce biofuels in Indonesia | ||||||||
| |
| |||||||
Copyright, respective author or news agency | |||
|
Selasa, 12 Mei 2009
Biarlah Deposito Emas Untuk Anak Cucu
Dari Diskusi IKL Kupang (2)
Biarlah Deposito Emas untuk Anak Cucu
Oleh Paul Burin
F. RAHARDI secara khusus menulis sebuah novel berjudul, Lembata. Lelaki asal Jawa Tengah ini membuat tulisan dengan seting khusus daerah itu karena tertarik dengan ragam kekayaan, terutama aspek pariwisata dan sumber daya alam di atas dan di bawah tanah.
Rahardi melakukan observasi hingga ke kampung-kampung. Ia ke Aliroba-Kedang, wilayah timur dan sempat bermalam di Udak, wilayah selatan. Ia juga mengitari Ile Ape, Uye Lewun, Labalekan dan Mingar. Hampir semua desa ia datangi. Begitu kisahnya.
Yang menarik ialah bahwa orang luar daerah menaruh perhatian khusus pada pulau seluas 1.266,39 km2 itu. Orang luar seperti F Rahardi pun terpanggil untuk membangunnya. Ia mengangkat fakta dari denyut kehidupan masyarakat Lembata.
Rahardi melihat angle lain dari daerah itu. Di satu sisi memiliki ragam kekayaan, namun di sisi lain masyarakatnya masih miskin. Kritikan yang dilontarkannya dalam cerita novel itu pun cukup pedas. Ia melihat peran gereja (hierarki) sangat kecil dalam memajukan daerah itu. Para pastor hanya bicara tentang iman, sedangkan kehidupan materi seakan diabaikan.
Karena itu, ketika novel ini diluncurkan pada tanggal 26 November 2008 lalu di Toko Buku Gramedia, Plaza Semanggi, Jakarta Selatan, Ayu Utami yang membedahnya kembali menggugat institusi gereja. Ayu Utami mengatakan, gereja mestinya melakukan banyak refleksi tentang kehidupan umat yang masih jauh dari standar kehidupan. Gereja mestinya mendorong umat untuk giat menata kehidupan ekonominya agar selaras dengan imannya yang terbilang maju. Dia bilang, dari segi iman orang Lembata itu maju. Namun, dari segi ekonomi masih terbelakang. Masih miskin.
Benar sebagaimana dikatakan F Rahardi. Tapi kini hierarki gereja pun mulai bangkit bersama umat menantang berbagai kebijakan publik yang keliru bahkan mungkin menyesatkan. Pater Vande Raring, SVD dan Romo Frans Amanue, Pr sebagai contohnya. Pater Vande bersama umat melakukan aksi protes bahkan berdemo di kantor Pemkab Lembata. Bersama umat dari wilayah Kedang dan Lebatukan, mereka menolak rencana tambang emas di Lembata.
Sedangkan Romo Amanue mengkritik kebijakan Bupati Flores Timur (Flotim), Felix Fernandez yang diduga melakukan berbagai kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN) saat memimpin daerah itu.
***
Dalam diskusi terbatas yang diprakarsai Ikatan Keluarga Lembata (IKL) Kupang di Aula Puskud NTT, pekan lalu, persoalan tambang emas ini menjadi topik yang serius dibicarakan. Ketua IKL Kupang, Drs. Ignas Bataona, mengatakan bahwa ekses dari penambangan itu sendiri begitu banyak.
Pertama, masyarakat Lembata sendiri akan menjadi penonton di negeri sendiri. Ia hanya bisa menjadi buruh kasar, Satpam dan juru masak karena jauh dari high technology.
Berdasarkan pengalamannya ketika meneliti tambang emas di Timika, Papua tahun lalu, penduduk sangat rentan terhadap berbagai penyakit, seperti HIV/AIDS. Itu artinya, hubungan seks bebas di sana tak terbendung.
Di Timika ia menyaksikan kehidupan masyarakat biasa-biasa saja terutama dari aspek ekonomi. Jadi sebenarnya dampak ekonomi secara langsung itu sangat kurang bahkan tak ada. Kekayaan alam itu akhirnya "lari" ke elite tertentu. "Jangan sampai hal-hal seperti ini menimpa kita," katanya.
Ia juga mengatakan, hanya ada satu kata jika penambangan itu dilakukan, yakni "evakuasi" penduduk. Penduduk harus dipindahkan, entah ke mana. Berapa banyak desa di Lembata yang harus dievakuasi. Siapa yang membiayai. Di manakah relokasi itu.
Bone Pukan pada kesempatan itu mengatakan bahwa aksi protes yang dilakukan masyarakat setempat adalah sikap spontan. Bone mengatakan bahwa pemerintah dan DPRD Lembata seakan telah kongkalikong dengan PT Merukh Enterprise, perusahaan yang akan mengeksploitasi emas di Lembata.
Bone membeberkan beberapa fakta. Para wakil rakyat dan pemerintah telah melakukan pembohongan publik. Ketika ia mengikuti pertemuan di Hotel Menteng Jakarta, sekitar dua tahun lalu, pemerintah dan para wakil rakyat itu menyatakan siap "mengamankan" masyarakat. Dengan kata lain, tambang harus berjalan dan masyarakat tak boleh mempersoalkannya. Ungkapan itu disampaikan kepada investor.
Kemudian fakta lainnya, bahwa studi banding yang dilakukan pun hanya sekadar kamuflase. "Ke PT Newmon di NTB memang mereka pergi sebagaimana dilaporkan Pos Kupang. Tapi ke Manado, apakah mereka ke sana. Saya yakin mereka tak pergi dan saya memiliki data," kata Bonne.
Karena itu ia mengatakan, persoalan apa pun menyangkut tambang emas ini harus didiskusikan, dibedah, dibahas dan melibatkan semua stakeholder di Lembata. Jangan sebaliknya pemerintah dan Dewan menyatakan "ya" kepada investor sementara hak-hak masyarakat diabaikan.
Sedangkan Drs. Rafael Luon mengatakan bahwa benar tambang emas akan menyejahterakan masyarakat. Namun, dari sisi ekosistem alam, apakah pulau kecil itu tak akan mengalami persoalan di kemudian hari?
Rafael juga mengatakan bahwa seting awal tambang emas ini keliru. Karena semata untuk kepentingan elite tertentu. Ia menyebut salah satu contohnya, yakni penangkaran mutiara di Teluk Waienga yang dijaga ketat pasukan Brimob. Padahal wilayah itu milik masyarakat setempat.
Ia menggarisbawahi pernyataan Ketua IKL, Ignas Bataona yang menyebutkan bahwa masyarakat akhirnya menjadi asing di negeri sendiri. Rafael menawarkan agar setiap langkah yang diambil, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, harus melalui pendekatan budaya.
Aleks Lazar, anggota DPRD Lembata terpilih, mengatakan, masalah tambang emas mulai mencuat ketika ia masih menjabat sebagai Kepala Badan Pertanahan Kabupaten Lembata. Ketika itu Aleks mengatakan, dialah yang ditugaskan sebagai ketua tim tata ruang. Tugasnya adalah membuat peta berdasarkan koordinat tanah. Hasilnya, terdapat lima lokasi tambang emas.
Berdasarkan citra satelit, menyatakan bahwa di Lembata terdapat tambang emas. "Nah, apakah tambang itu dan berapa banyak depositnya, saya tak tahu. Setelah tanya sana sini, saya mendapat informasi bahwa untuk mengetahui kandungannya, lokasi itu harus dibor dari atas dan samping dengan kedalaman 250 meter. Jika terdapat lima titik dengan kedalaman bor 250 meter apakah pulau kecil itu tak rubuh?" katanya.
Meski ia mendapat penjelasan bahwa struktur bumi itu tak gantung, namun bentuknya seperti piramida, sebagai awam ia merasa tak aman. Apalagi daerah itu sebagai daerah vulkanik. Ketika terjadi gempa bumi, maka lima titik itu bisa tenggelam dan tentunya berdampak buruk pada kehidupan masyarakat setempat.
Menurut Herman Wutun, Lembata memang kaya. Dan, ternyata masih banyak kekayaan di atas tanah yang belum dikelola. Karena itu, kekayaaan itu harus dieksploitasi secara maksimal. Pemerintah agar membuka akses jalan ke semua wilayah potensial untuk mendorong perekonomian, selain aspek pariwisata. Sebab begitu banyak sentra ekonomi di Lembata yang belum dijamah pemerintah. Sebaliknya, Herman mengatakan, biarlah deposito emas yang ada untuk anak dan cucu kita. (bersambung).jpg)
0 komentar: